Jumat, 24 Juli 2015 0 komentar

Aku akan sedikit berkata, hingga engkau paham kata-kata yang belakangan ini kehilangan ruhnya.
Nantipun masih akan aku dengar resahmu dari pangkal huruf A hingga ujung Z, hingga tanda-tanda yang belum engkau terjemahkan.
Beginilah waktu hingga purnama menjadi purnama dalam batas fana.

Kamis, 18 Juni 2015 0 komentar

Orang yang Butuh Bicara

Dalam hiruk pikuk manusia kini ada seorang yang merasa hening dalam dirinya. Kejadian-kejadian sekitar membuat dirinya terlibat sedikit dan tak jarang juga banyak. Hampir-hampir bagian kebahagiaannya diciptakan melalui kejadian-kejadian disana. Kejadian yang meliputi orang, tempat, cerita, dan rerasa. Banyak kalangan menganggap dirinya hilang dalam dunia yang diciptakannya sendiri. Tapi orang itu keliru, dia hilang dalam pencarian diri.
Apakah kini manusia menyadari dirinya sendiri? Siapakah dia? Ruang-ruang penciptaan imajinasi dibuatnya nyata. Dia mengeluarkan suara tawa dan tangis bebarengan. Siapa yang tahu itu? Siapa yang sadari? Manusia kemudian termakan pada monolog. Media yang ada dimana seharusnya ada untuk saling berdialog kini pun bias. Apakah mereka benar-benar berdialog atau hanya sekedar bermonolog untuk memenangkan egonya? Pun kini adakah orang yang mendengar untuk berbicara? Mendengar untuk memahami? Disekitarmu, sadarikah ada orang yang butuh bicara denganmu kini dan nanti.

Senin, 04 Mei 2015 0 komentar

Perahu Patah Tiang

Perahu patah tiang
Terombang - ambing deras samudera
Menanti cakrawala menitip terang
Disana kau benderang

Ada duka yang terbaik
Kau karam bersama
Entah tua atau muda
Lusa lupa nona

Senin, 27 April 2015 0 komentar

Menjadi Malam

Jadilah malam, dalam apa adanya dan ketiadaan
Malam yang mencekam, dingin dan penuh ketakutan
Jadilah malam, jika engkau inginkan ketenangan
Mengusir kebencian dan keriuhan

Jadilah malam..
Begitulah malam, didalamnya ada doa-doa sebelum tidur, dongeng yang diceritakan pada anaknya, dan kerinduan lekat pada sujud

Menjadi malam, dan menjadilah
Meski tak pernah mudah
Sejengkal pun

Kamis, 09 April 2015 0 komentar
"Kala hati memilih disaat yang tidak tepat. Pasrah sama hati saja, nanti juga ada jawabannya. Kan perjalanan hidup, mengalirlah, tapi mengalir dengan tujuan."


Sering dari kita bertanya tentang perasaan yang sedang dialami. Kita inginkan segera jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari perasaan. Ada yang yakin, tak sedikit yang ragu. Kita mengira-ngira adakah benar yang kita rasakan. Yang awalnya ragu kemudian diyakinkan, sebaliknya yang yakin kemudian meragu. 

Perasaan itu paradoks sempurna. Ia bekerja dalam dimensi yang berkaitan satu sama lainnya. Oleh karenanya, ia yang merasa ragu terhadap perasaanya sebenarnya ragu tentang dirinya. Ragu untuk meyakini diri bisa menerima perasaan tersebut. Karena perasaan itu ada akibat stimulus yang diproses oleh diri.

Pasrah. Kata yang aku katakan. Jikalau kalian pasrah, menerima segala bentuk rasa, ku yakini kalian akan pahami. Kemudian dapat mengendalikan perasaan itu. Karena rasa yang kita terima adalah anugerah. Rasa itu ada untuk kita.Untuk kita pahami dan kita syukuri.

Bersyukurlah kita dititipkan perasaan-perasaan semacam itu oleh Allah.

 
;