Kamis, 05 Desember 2013 0 komentar

Proses Hidup #Part 1

Hiduplah dalam penerimaan realita. Aku memperoleh kata-kata tersebut dari Bapak. Beliaulah yang mengajarkan aku tentang arti hidup. Keberanian beliau untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga mendapatkan pendidikan terbaik merupakan keberanian hidup yang dicontohkan dari banyak hal yang telah diajarkan kepada kami. Tidaklah logis menghitung besar pendapatan keluarga dengan biaya pengeluaran yang harus ditanggung. Tapi, Bapak selalu percaya, pendidikan, adalah investasi terbaik untuk menghadapi kehidupan. Investasi pendidikan tidak melulu masalah pendidikan formal. Pendidikan terbaik merupakan yang diberikan oleh kedua orang tua kami melalui kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga. Dalam keluarga kami, sebuah pemberian dari orang tua selalu ada sebuah pembelajaran mengenai hidup.

Pernah aku meminta sebuah sepeda sewaktu aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Waktu itu aku kelas 5 SD, orang tua menjanjikan padaku kalau akan dibelikan sepeda ketika mendapatkan rangking 1. Bak seolah anak kecil yang keburu keinginannya terpenuhi akupun semangat belajar hingga akhirnya aku memenuhi hal itu. Tiba saatnya aku menanyakan tentang janji itu. Waktu semakin berlalu, sepeda tak kunjung terlihat oleh mata ini untuk menghibur hati seorang anak kecil yang terlalu terbuai keinginan. Ibu pun mengatakan kalau aku akan mendapatkan sepeda itu, tapi nanti pada saatnya. Hingga tiba sebuah sepeda yang tak pernah terbayangkan. Sepeda yang terpakir didepan rumah lebih bagus dari yang aku bayangkan sebelumnya. Sekolahpun semakin semangat, hingga suatu saat sepeda hilang entah kemana. Aku sempat menanyakan, tapi jawaban tak kunjung melegakan hati. Hingga aku menemui sebuah titik kala itu, tentang sebuah penerimaan.

Uang hasil penjualan sepeda digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah kami waktu itu. Usahaku untuk giat belajar terus berlanjut, hingga mendapatkan peringkat itu lagi dan adikku yang pertama mulai duduk dibangku kelas TK, adik yang paling kecil masih main-main dirumah. Sungguh membahagiakan mempunyai saudara kandung seperti mereka.

Kamis, 07 November 2013 0 komentar

Semu


candu
senyum itu
kini, berbeda

sekelebat waktu tak berdetak lagi
dan kau berhasil menghadirkan kembali
kenangan itu

wajah yang tak mungkin ku sentuh
seutuh imajinasi
bayang semu rindu

disana langkahmu kini
berseberang jauh
menatap matahari kita masing-masing

ahh..jalan itu berbeda
berhitunglah dengan langkah
tidaklah sama, kini
0 komentar

AKU (AIR)


Saat krisis air
Keindahan alam jadi semu
Kupu-kupu takkan lagi berterbangan
Dan datangnya musim semi membawa harapan palsu

kemanakah kau akan berlari
memburu gelas-gelas penuh
sedangkan ku disini bermain dengan lumpur
bercengkrama dengan aneka sisa aktivitasmu

negeri yang hijau hanya akan jadi cerita
kala melihatmu kini diam tak bergerak
hanya aku yang berteriak sampai kering,
memprotes segala kerakusanmu

hidup takkan lagi lama
kotori saja bumi sampai kau senang
sampai perut tak lagi tahan akan racun
dan tergali liang lahatmu sendiri

Hey..
adakah salah satu dirimu
tuk menyusun bingkai-bingkai mimpi anak cucumu
memberikan warisan terbaik dari leluhur
Minggu, 03 November 2013 0 komentar

Cinta, Kenapa Kau Sengsara ?

Tertutuplah pada sang fajar jikalau kau belum mampu menatapnya. Namun fajar tetaplah fajar, sang pemberi harapan setalah hujan deras mengguyur hidupmu pada kelam malam. Tak pernah seorangpun berbisik pernah mengalami hal mengerikan ketika yang melakukan adalah orang yang pernah berjabat tangan dengannya. Pastinya kau menjadi orang yang tegar manakala kau tahu apa yang tengah melanda dirimu. Matahari semakin bersinar kala dirimu beringsut dalam selimut tidur. Setiap pagi tak selalu sama, teruntuk suasana hati. Gelap telah sepenuhnya kembali kala kau tak mau melihat dunia tempat kau bernafas. 

Cinta, kelak akan datang
dari hatimu
senandung rindu

Cinta, tak seharusnya kau begini
sengsara dalam fajar
menyatu dalam pilu

Lihatlah dunia luar, terimalah dirimu
nyanyikanlah lagumu
genggamlah tanggan disampingmu
 
Manusia telah menjadi fitrahnya, hidup dalam lika-liku perasaan. Kitalah manusia itu. Cinta tak boleh sengsara, karena cinta adalah sebuah pengharapan untuk terus hidup. Carilah cinta dalam dirimu. Hadirnya rasa pada seseorang tak pelak oleh siapa dirimu sekarang. Karena sebaik-baiknya cinta adalah ketika kau menemukan dirimu yang sebenarnya.
Jumat, 25 Oktober 2013 0 komentar

Ketika Tulisan Tak Terarah

Ketika tulisan tak terarah, kau pandangi sejenak kawan dalam angananmu. "Hay, sedang apa kau  ?", ucapmu begitu dalam kalut. Tak pernah kau pahami satu jiwa saja. Dirimu. 

Dalam malam, kala satu-satunya yang kau pandangi adalah rindu. Kawanmu bahkan tak pernah muncul, bahkan dalam senyum yang sering kau simpan rapi dalam kabut putih. Tak pernah kau mengijinkannya tuk satu orangpun tahu. Kau sangat percaya akan mimpimu, bahkan mimpimu yang jadi bahan tertawa orang-orang disekitarmu. 

Kau dan teman anganmu adalah satu. Ditakdirkan untuk bersatu, dalam masa yang tak dimengerti. 

Tak ada kata tawar untuk hal ini. Bahkan teman anganmu itu laksana kabut putih, menyatu dalam tempat yang disebut itu rindu. 


rindu, kelak engkau kan bermuara
laksana embun pagi yang kan sampai pada samudera
dalam sukma kau simpan ruh yang murni
wujud kehidupan



 
;