Selasa, 07 Oktober 2014 0 komentar

Menunggu waktu

Kabut putih mulai turun ke lembah
Dituainya embun tanpa takaran
Ia lembut merambat halus pada sela-sela dedaunan

Bunga-bunga merekah pada keheningan dini hari
Harumnya semerbak menyebar terbawa angin
Membawa kenangan akan aroma parfummu

Malam kian terjaga, merangkum rindu pada sang fajar
Begitulah rinduku, ia akan hadir menunggu waktu
Biarlah sang fajar menyampaikannya padamu, Jingga

Sabtu, 04 Oktober 2014 0 komentar

Hitam putih

Berbeda adalah cara kamu memberikan nama atas keindahan kuasa Tuhan. Ia hadir dalam setiap sisi kehidupan. Namun apakah kamu lebih memilih suka untuk terus berusaha dalam perbedaan atau kah kamu menyerah lantas mengalir dalam warna yang kamu anggap sama denganmu? Itu adalah sebuah pilihan.

Perbedaan sejatinya memberikan ketegasan untuk kita dapat mengenali diri sendiri sebaik mungkin. Memperbaiki diri sendiri merupakan kewajiban kita masing-masing bukan? untuk melangkah lebih jauh ke depan, berdampingan. Andai saja ruang dan waktu memberikan kita kesempatan untuk saling memahami, pastilah senyuman tetap terlukis. Kita akan menuai kesejatian dalam titik equilibrium kehidupan.

Hitam putih menjadi kisah. Melengkapi hidup seutuhnya.

Kamu, kabarmu bagaimana? Aku tetap masih manusia, sama juga denganmu.

Rabu, 01 Oktober 2014 0 komentar

Terang

Jingga, gadis ini duduk memandangi langit-langit penuh bintang. ia bermetamorfosa menjadi putri ketika diam sembari senyum memandangi langit. Tak terpikirkan olehnya tingkah orang-orang disekitarnya. Dan yang diinginkannya adalah bintang untuk menemani malamnya.
Angin yang berlalu, namun tidak semua berlalu. Ia dalam kenangan. Ia menetap, mencari cahayanya yang terang. Cahaya bintang yang akan menunjukkan padanya arah jalan pulang. Cerahnya langit malam seakan mampu membuatnya terang. 
Semoga dikuatkan langkahnya menuju pulang. Cahaya bintang yang tak akan pernah sirna. Arah pulang yang sama dengan rasa. 
Rabu, 24 September 2014 0 komentar

Berpijak


Aku mulai melihat pada diri. Mencari-cari dalam memori. Ku temukan semua, engkau disana. Ya, masih disana. Kau masih menjadi Jingga bersinar dibelahan bumi ku. Dimana bisa ku pijakan semua harap akan mimpi diatas ego dan keraguan. 

Ku paksakan langkah demi langkah meski demikian gontai. Membawa semua harap dan mimpi masih terjaga rapi dalam dekapan. Ku telusuri jalanan ini, meski senyum sinis dan sesekali ditiupkan ragu. Hitam dan putih menjadi kisah. Warnamu adalah duniaku.


Jika esok masih datang kembali, semua pasti ada arti. Tentang masa depan yang tiada tertepi. Ku yakinkan prasangka baik mengalahkan segalanya. Ku yakin pasti ada jalan, selama doa masih bisa disampaikan serta kaki ini kuat melangkah. 


Ku tahu kau terselimuti prasangka. Bisikanlah harap, belajarlah berpijak. Jadikanlah sinarmu cerah oleh hatimu yang tulus. Aku selalu bersamamu dalam derap dan mimpi indah. Janganlah kau kehilangan arah, karena ada orang yang menyayangimu tuk mendampingimu belajar melangkah.

Kamis, 11 September 2014 0 komentar

Purnama

Bisakah kita berbicara, menceritakan tentang hari-hari yang telah kita lalui. 
Bukan, bukan untuk berbagi rindu. Tapi untuk sekedar memahami arti diri. Biarlah rindu ini mengalir pada muaranya. Melewati bebatuan terjal yang menuntun kita pada suatu ketetapan dan ketenangan jiwa. Bukankah tawamu sungguh renyah didengar? Akupun rindu saat kita berbagi tawa. Bukan berarti aku tidak ingat salah satu dari kita pernah rapuh, tapi karena selalu ada senyum yang bisa menjadi doping disengala kondisi. Kita memiliki semua itu. 

Purnama malam ini indah bukan?
Bukankah selepas ini langit tak akan lagi menampakkan rembulan untuk beberapa malam. Bukankah disela-selanya ada bintang yang akan nampak lebih cahayanya. Kita bisa menikmatinya, janganlah bersedih. Purnama akan datang lagi suatu malam nanti, pada hitungan waktu yang terukur sempurna oleh Sang Pencipta. Dan kita bisa duduk bersama lagi, mencari arti diri dalam renungan-renungan yang bahkan jauh dari pemikiran kita.
 
;