Telah dirahasiakan, pertemuan yang belum pernah kita tahu muaranya
Telah ditentukan, momen termagis saat jemari kita bersentuhan
Akan ku rindu sampai saat itu datang
Akan ku tunggu ketidakrelaanmu kala kita berjarak
Kita tidak pernah tahu, pada jiwa seperti apa hati kita memilih
Memilih yang telah dipilihkan
Jiwa yang serupa mentari kah? Atau jiwa serupa bayang?
Semuanya indah, aku menyukai keduanya
Sekali lagi, tak usah lelah menunggu
Aku kan berlarian menuju dirimu
Akan aku berikan suatu rahasia padamu, non. Dunia bergerak pada kehancuran dan ketidakteraturan, tapi semesta memang diciptakan begitu. Tidak usah khawatir, ketika kamu percaya pada Penciptanya. Seperti yang kamu tahu, manusia bagian dari semesta. Itulah mengapa manusia seringkali membuat kekacauan. Itulah mengapa sering kali aku kesal menghadapi manusia, tapi aku juga ingin membawanya pada kebaikan.
Manusia memang menyebalkan, tapi aku juga manusia. Dan seringkali, aku manusia yang tidak dimanusiakan. Memang benar, lakukanlah hal yang baik tanpa pernah berekspektasi pada apa yang akan kembali pada diri. Selagi kita jadi manusia, ya jadilah manusia seutuhnya. Hadir seutuh diri, sebagaimana manusia yang mempunyai perasaan dan akal.
Teruntuk Ibu, masih ku ingat ketika engkau selalu memaksa membawa bekal ketika aku menginjak TK. Bahkan aku yang selalu menolak untuk sarapan. Saat engkau telah bangun subuh dan memasakkan sayur kesukaanku.
Ada semesta bahasa dalam sujudmu
Ibu, tertera namamu dalam hidupku
Menjadikan ada diatas keyakinan diri
Ibu, ku eja rasa pada setiap masa
Bagaimana kalau aku ingin pulang, tapi tak tahu harus pulang kemana? Pulang ke rumah ? kau tahu sama saja menambah beban karena aku belum selesai skripsi.
Aku ingin pulang. Hujan, bawa aku pulang.
Tuntunlah aku pulang, dari tepian jalan.
Hujan, tunjukkan aku arah pulang.
Hujan, bawa aku pulang lagi.
Aku ingin pulang.
Aku ingin pulang ke tempatmu.
Sebentuk rindu ingin memelukmu.
Aku ingin pulang. Hujan, bawa aku pulang.
Tuntunlah aku pulang, dari tepian jalan.
Hujan, tunjukkan aku arah pulang.
Hujan, bawa aku pulang lagi.
Aku ingin pulang.
Aku ingin pulang ke tempatmu.
Sebentuk rindu ingin memelukmu.
Aku merindu pada rintik hujan kala menyentuh genggaman
Aroma wangi tanah tercampur air
Lekat ingin ku hirup kuat-kuat
Hujan malam ini, ku teringat akan suatu rasa
Kala aku pergi ke kotamu, bercampur riuhnya hati dan hujan
Suatu senja yang lekat dalam ingatan untuk dikenang
Aku hanya ingin menemuimu, selebihnya tak dapat aku jelaskan dengan kata-kata
Tak peduli ratusan kilometer ku tempuh, rasa lelah yang menggunung di atas pundak
Aku hanya ingin bertemu denganmu, itu saja
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact