Rabu, 24 September 2014 0 komentar

Berpijak


Aku mulai melihat pada diri. Mencari-cari dalam memori. Ku temukan semua, engkau disana. Ya, masih disana. Kau masih menjadi Jingga bersinar dibelahan bumi ku. Dimana bisa ku pijakan semua harap akan mimpi diatas ego dan keraguan. 

Ku paksakan langkah demi langkah meski demikian gontai. Membawa semua harap dan mimpi masih terjaga rapi dalam dekapan. Ku telusuri jalanan ini, meski senyum sinis dan sesekali ditiupkan ragu. Hitam dan putih menjadi kisah. Warnamu adalah duniaku.


Jika esok masih datang kembali, semua pasti ada arti. Tentang masa depan yang tiada tertepi. Ku yakinkan prasangka baik mengalahkan segalanya. Ku yakin pasti ada jalan, selama doa masih bisa disampaikan serta kaki ini kuat melangkah. 


Ku tahu kau terselimuti prasangka. Bisikanlah harap, belajarlah berpijak. Jadikanlah sinarmu cerah oleh hatimu yang tulus. Aku selalu bersamamu dalam derap dan mimpi indah. Janganlah kau kehilangan arah, karena ada orang yang menyayangimu tuk mendampingimu belajar melangkah.

Kamis, 11 September 2014 0 komentar

Purnama

Bisakah kita berbicara, menceritakan tentang hari-hari yang telah kita lalui. 
Bukan, bukan untuk berbagi rindu. Tapi untuk sekedar memahami arti diri. Biarlah rindu ini mengalir pada muaranya. Melewati bebatuan terjal yang menuntun kita pada suatu ketetapan dan ketenangan jiwa. Bukankah tawamu sungguh renyah didengar? Akupun rindu saat kita berbagi tawa. Bukan berarti aku tidak ingat salah satu dari kita pernah rapuh, tapi karena selalu ada senyum yang bisa menjadi doping disengala kondisi. Kita memiliki semua itu. 

Purnama malam ini indah bukan?
Bukankah selepas ini langit tak akan lagi menampakkan rembulan untuk beberapa malam. Bukankah disela-selanya ada bintang yang akan nampak lebih cahayanya. Kita bisa menikmatinya, janganlah bersedih. Purnama akan datang lagi suatu malam nanti, pada hitungan waktu yang terukur sempurna oleh Sang Pencipta. Dan kita bisa duduk bersama lagi, mencari arti diri dalam renungan-renungan yang bahkan jauh dari pemikiran kita.
Selasa, 22 Juli 2014 0 komentar

Gemintang

Gemintang langit menyapa dini hari, menanyakan tentang jiwa yang masih terjaga. Cerahnya langit yang menjaga, merangkum rindu pada seseorang. Ku teringat pada kaki-kaki yang melangkah bersama dengan ringan. Pada tawaran sebotol minum saat benar-benar haus. Setelah berlarian di atas pasir pantai.

Sebagian orang dapat bertemu untuk berbagi rindu. Sebagian orang menuliskan surat untuk dapat saling berbagi kabar. Sebagian orang mendoakan untuk kebaikan orang yang disayanginya. Tapi aku tak mampu berkata apa-apa untuk sekedar menyampaikan apa yang telah ku rasa.

Ku titipkan pada isyarat alam semesta untuk menyampaikan pesan ini pada mu. Entah saat pagi, lewat nyanyian burung-burung pipit yang manis. Atau kala malam menjelang bersama bintang-bintang di langit yang cerah.

Tak terlalu muluk aku berharap pesan ini cepat tersampaikan. Mungkin lusa atau kapanpun saat seisi ruang dan waktu mu siap untuk berbagi tentang apa yang ku rasakan ini bersamaku. Mungkin suatu senja saat kita bisa tertawa lepas, kita akan minum bersama dengan minuman kesukaan kita masing-masing. Berbagi cerita tentang hari-hari yang telah kita lalui.

Rabu, 02 Juli 2014 0 komentar

Jingga

Jingga, pada semburat warna senja kau menari
Ingin ku lalui lagi senja bersamamu
Setapak demi setapak kaki kita melangkah
Menuju arah yang sama

Semilir angin
Hati ku lirih berbisik pada deretan pohon yang ku lalui sore ini
Berbicara ini dan itu tentang mu
Adakah kau merasakan hal yang sama?

Senja, adakah Jingga bersinar dibelahan bumi ia berada?
Dimana langit-langit tidak menghitam menghalangi sinarnya tuk menjadi Jingga
Jingga yang membersamaiku kini dan nanti
Merajut asa dalam setiap langkah kaki-kaki kecil ini
Jumat, 27 Juni 2014 0 komentar

Warna Senyum

Secangkir coklat panas sudah aku habiskan malam ini. Namun tidak senyummu, ada candu disana. Tak habis aku nikmati manisnya. Purnama malam ini membawa perjalanan kita pada nuansa kisah nyata, bukan seperti kisah yang kita baca tempo hari. Aku disini berjalan disampingmu. Berjalan menuju ke 'tempat' yang sama, 'tempat' yang kita inginkan.

Aku menikmati malam ini tanpa spasi yang memisahkan senyummu dengan keindahan, kalian satu. Tak pernah ragu untuk menerangi seisi waktu. Aku pun tak pernah ragu dalam setiap apa yang ada pada dirimu.

Setiap dari kita memberikan peran tersendiri pada perjalanan ini. Ingatlah apapun yang ada pada dirimu adalah anugerah. Banyak orang yang ingin menjadi seperti dirimu. Aku pun tahu kamu nyaman dengan dirimu sendiri. Mungkin begitulah seharusnya setiap individu.

Waktu menuntut kita pada pemahaman tentang kehidupan. Kehidupan tidak selalu indah seperti apa yang kita inginkan bukan ? pernah suatu waktu kamu menyetujuinya. Sekarang aku menyaksikan setiap usahamu menemui titik terang. Ingatkah kamu pada setiap menjelang akhir babak setiap kisah pasti ada moment yang menuntut kita berusaha lebih keras hingga peluh bercucuran dan tak jarang menguras emosi. Serta yang membahagiakan adalah moment setelahnya, kita dapat menjadi diri yang lebih baik tanpa kita sadari.

Aku ingin melihatmu menjadi dirimu sendiri, pada pusaran waktu yang mustahil untuk kembali. Pada dirimu peran yang sesungguhnya akan terasa lebih indah, karena pemeran dapat dan mampu memainkan perannya dengan sepenuh hati. Senyumanmu akan semakin ku rindukan, hidup pada ruang-ruang perasaan.



Aku, kamu, mereka
warna-warna kehidupan
Setiap pendarnya memberikan arti

Aku berkisah
Kamu berkisah
Kisah kasih kehidupan yang sama

 
;