Sabtu, 16 Juni 2012

Kisah Pantai : Awan dan Tanah

Bukan lagi dalam mimpi untuk menemui semua awan sore tadi. Terlihat berkerumunan yang memutih dan indah. Resah atau apalah manusia umum menyebutnya itu, dapat sedikit terkikis. Kau adalah awan tersendiri yang ku nanti di pantai ini. Dan, aku hanyalah tanah yang dibuat istana pasir oleh orang-orang yang sering berkunjung. Menyendiri atau hanya sekedar menikmati pesona pantai ini. Ataukah mereka juga turut selalu menanti hadirmu, awanku. Entahlah. Kalaupun itu benar aku rasa wajar saja.

Hei kawanku yang berkaki empat pasang. Yang juga turut senang menemaniku di sini. Terkadang aku yang tersenyum sendiri ini, melihatmu dengan bangga menunjukan sepasang kaki depan yang telah berevolusi menjadi sepasang capit. Senjata andalannya untuk saling menyapa lawan jenis dari bangsanya. Lihatlah disana, ke arah langit dimana burung-burung camar terbang menjulang. Dapatkah kau temui segumpalan awan putih yang selalu terlihat diam. Seperti mengamati deburan ombak yang tak kunjung henti.

Tadi, ku lihat juga matahari yang senangtiasa bersinar terang. Seolah membawa senyuman tersendiri. Cerah. Dan terlihat menguning ketika akan beranjak pulang. Berakhir petang menyelimutiku. Seolah aku iri padamu, matahari. Kau selalu dapat bersama dengan awan, meski ke mana kau pergi. Ataupun bercengkrama dengan awan dengan asiknya.

Kau tahu awan ?sungguh teramat senang melihatmu selalu di sana. Adanya dirimu selalu membuat diriku terasa sejuk. Karena kau memberikan keteduhan dari sengatan panas sinar matahari.

Terkadang aku berpikir untuk dapat berjumpa denganmu, di daratan bumi ini. Tapi kapan, gumamku dalam hati.

Mungkinkah dirimu akan meluruh menjadi butiran-butiran air. Jatuh sebagai rintikan hujan. Menemani kerinduanku padamu, awan. Seperti teman-temanmu yang ikut jatuh ke daratan gersang ini. Memilih butiran tanah yang mereka inginkan.

Hadirmu di daratan ini, selalu membawa harapan baru untuk kehidupan. Keajaiban yang telah Tuhan anugerahkan padamu sungguhlah sangat luar biasa. Aku dan kamu, awan bercampur tanah. Menjadikan alam ini menjadi hidup dengan aneka ragam makhluk yang ada di atasnya.

Oleh karena itu, awan, datanglah kemari dengan sejuta pesonamu. Aku kan selalu menunggumu disini. Di daratan yang sangat merindukan dirimu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;